Selasa, 05 Januari 2010

Konsep Diri

a. Pengertian Konsep Diri
Konsep dalam kamus bahasa Indonesia diartikan sebagai pengertian, pendapat (faham), rancangan (cita-cita) yang telah ada dalam pikiran.
Secara umum konsep diri (self-concept) merupakan cara keseluruhan informasi yang kompleks, yang secara keseluruhan membentuk diri seseorang.
William mendifinisikan konsep diri sebagai pandangan dan perasaan kita tentang diri kita.
Rahmad menyatakan konsep diri bukan hanya sekedar gambaran deskriptif saja, tetapi juga penilaian individu terhadap dirinya. Jadi konsep diri meliputi apa saja yang dipikirkan dan apa yang dirasakan tentang individu sendiri.
Ada dua komponen konsep diri, yaitu :
1) Komponen kognitif disebut citra diri (self image)
2) Komponen afektif disebut harga diri (self esteem)
Komponen kognitif merupakan pengetahuan individu, gambaran diri tersebut akan membentuk citra diri. Sedangkan komponen afektif merupakan penilaian individu terhadap dirinya sendiri.
Mowen mendifinisikan konsep diri sebagai cerminan totalitas pemikiran dan perasaan individu yang merujuk pada diri sendiri sebagai sebuah objek.
Sementara Atwater membedakan konsep diri menjadi empat, yaitu :
1) Subjective self (diri subjektif) yaitu cara seseorang memandang dirinya sendiri.
2) Body image (citra tubuh) yaitu cara seseorang memandang tubuhnya.
3) Ideal self (diri ideal) yaitu diri yang diinginkan seseorang, termaksud aspirasi, moral ideal dan nilai.
4) Social self yaitu persepsi diri berkaitan dengan pengaruh sosial yang ada.
Menurut Carl Rogers dalam skripsi yang berjudul Konsep Diri dan Sikap Anak SMU 14 di Yogyakata karangan Yuni dwi Astuti menyatakan bahwa konsep diri seseorang dalam kehidupan secara bertahap berkembang. Seseorang berusaha menjadi dirinya sendiri (diri aktual atau real self) dengan patokan yang disebut ideal self, yaitu diri ideal yang ingin dicapai seseorang. Keseimbangan atau ketidakseimbangan antara diri aktual dan diri ideal inilah yang menentukan kedewasaan (motority) penyesuaian (adjustment) dan kesehatan mental seseorang.
Calhoun dalam Yuni juga menyatakan bahwa konsep diri terdiri dari tiga dimensi, yaitu:
1) Pengetahuan terhadap diri sendiri.
2) Harapan terhadap diri sendiri.
3) Evaluasi terhadap diri sendiri.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa konsep diri adalah persepsi individu terhadap dirinya sendiri. Persepsi terhadap diri sendiri itu bukan hanya penilaian terhadap diri sendiri melainkan juga penilaian atau penafsiran mengenai diri sendiri oleh individu yang bersangkutan. Persepsi terhadap diri sendiri ini dibentuk oleh pengalaman-pengalaman dan pendapat dari lingkungan yang dipengaruhi oleh penguatan, penilaian orang lain dan pribadi individu bagi tingkah lakunya, baik segi fisik, psikis dan sosial yang akan membentuk sikap, kepercayaan dan nilai diri individu. Oleh karena itu, konsep diri mempunyai pengaruh besar terhadap tingkah lakunya.
b. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Dan Pembentuk Konsep Diri
Faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri meliputi 4 faktor :
1) Reaksi dari orang lain. Konsep diri terbentuk dalam waktu yang lama dan pembentukan ini tidak dapat diartikan bahwa adanya reaksi yang tidak biasa dari seseorang akan dapat mengubah konsep diri. Namun demikian reaksi yang sangat sering terjadi atau bila reaksi muncul dari orang lain yang mempunyai arti yaitu orang-orang yang dinilai, seperti orang tua, teman dekat dan lain-lain, maka reaksi ini mungkin berpengaruh terhadap konsep diri.
2) Perbandingan dengan orang lain. Konsep diri juga sangat tergantung dengan bagaimana cara individu membandingkan dengan orang lain. Individu biasanya lebih suka membandingkan dirinya dengan orang lain yang serupa dengan dirinya.
3) Peranan seseorang, terutama orang itu mempunyai arti penting bagi individu dan dianggap individu seseorang itu mempunyai kuasa untuk mempengaruhi konsep diri seseorang.
4) Identifikasi terhadap orang lain, individu memiliki harga diri yang tinggi biasanya memiliki orang tua yang juga memiliki harga diri yang tinggi. Salah satu cara bagaimana individu menerima peran kelompoknya di dalam mengembangkan konsep dirinya ialah dengan identifikasi terhadap orang tua yang berjenis kelamin sama.
c. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Konsep Diri
1) Orang Lain
Harry Stack Sullivan menjelaskan bahwa jika kita diterima orang lain, dihormati, disenangi karena keadaan kita, kita akan cenderung bersikap menghormati dan menerima diri kita, bila orang lain selalu meremehkan kita, menyalahkan kita dan menolak kita, kita akan cenderung tidak akan menyenangi diri kita.


2) Kelompok Rujukan (reference group)
Dalam pergaulan bermasyarakat, kita pasti menjadi anggota berbagai kelompok. Misalnya, kelompok organisasi yang ada dikampus. Setiap kelompok mempunyai norma-norma tertentu yang berpengaruh pada emosional kita dan menjadi pembentuk konsep diri kita.
3) Konsep Diri Positif Dan Negatif
Setiap individu pasti memiliki konsep diri, baik konsep diri positif maupun konsep diri negatif. Dalam kenyataannya tidak ada individu yang sepenuhnya memiliki konsep diri yang positif atau sepenuhnya negatif. Seperti pendapat Hamachek dalam catur memberikan penegasan bahwa karakteristik individu yang memiliki konsep diri positif antara lain:
1. Konsep Diri Positif
Konsep diri positif adalah seseorang yang memiliki prilaku
antara lain:
a. Ia meyakini betul nilai-nilai dan prinsip-prinsip tertentu serta bersedia mempertahankannya walaupun menghadapi pendapat kelompok yang kuat.
b. Mampu bertindak berdasarkan penilaian yang baik tanpa merasa bersalah yang berlebihan atau menyesali tindakannya jika orang lain tidak setuju dengan tindakannya.
c. Tidak menghabiskan waktu untuk hal yang tidak perlu.
d. Merasa sama dengan orang lain.
e. Memiliki keyakinan pada kemampuannya untuk mengatasi persoalannya.
f. Sanggup menerima dirinya sebagai orang yang penting dan bernilai bagi orang lain.
g. Dapat menerima pujian tanpa pura-pura rendah hati.
h. Cenderung menolak usaha orang lain untuk mendominasinya.
i. Sanggup mengaku pada orang lain bahwa ia mampu merasakan berbagai dorongan dan keinginan.
j. Mampu menikmati dirinya secara utuh, dalam berbagai kegiatan meliputi pekerjaan, permainan, ungkapan diri yang kreatif, persahabatan atau sekedar mengisi waktu.
Menurut William D. Brooks dan Philip Emmert individu yang memiliki konsep diri positif ditandai dengan lima hal, yaitu :
a) Ia yakin akan kemampuannya mengatasi masalah.
b) Ia merasa setara dengan orang lain.
c) Ia menerima pujian tanpa rasa malu.
d) Ia menyadari, bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan dan perilaku yang tidak sepenuhnya disetujui masyarakat.
e) Ia mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian yang tidak disenangi dan berusaha mengubahnya.
Ciri khas individu yang berkonsep diri positif adalah pengetahuan tentang dirinya sendiri yang luas dan bervariasi, harapan-harapan yang realistik dan harga diri yang tinggi. Individu yang berkonsep diri positif juga mempunyai pengetahuan yang seksama tentang dirinya sendiri dan ini menjadikan individu mempunyai penerimaan diri.
Seseorang yang berkonsep diri positif menetapkan tujuan-tujuannya secara masuk akal. Dia dapat mengukur kemampuannya secara objektif dalam meraih tujuan yang hendak dicapainya. Mahasiswa Tunanetra yang berkonsep diri positif mempunyai kemampuan mentalnya, hal ini menyebabkan seseorang menerima dirinya sendiri sebagaimana adanya.
Individu yang berkonsep diri positif akan mampu untuk bertindak mandiri, mampu bertanggung jawab, merasa bangga akan prestasi yang dicapainya dan mampu mempengaruhi orang lain.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa konsep diri positif akan membawa kepribadian yang mantap, penerimaan diri sebagai seseorang yang sama berharga dengan orang lain, memberi kepuasan dalam kehidupannya dengan dunia sekitarnya tanpa harus menimbulkan gangguan mentalnya.
4) Konsep Diri Negatif
Menurut William D. Brooks dan Philip Emmert ada lima tanda individu yang memiliki konsep diri negatif, yaitu :
a) Ia peka pada kritik. Orang ini sangat tidak tahan kritik yang diterimanya, dan mudah marah dan naik pitam.
b) Orang yang memiliki konsep diri negatif, responsif sekali terhadap pujian, ia tidak dapat menyembunyikan antusiasmenya pada waktu menerima pujian.
c) Memiliki sikap hiperkritis terhadap orang lain. Ia selalu mengeluh, mencela atau meremehkan apapun dan siapapun. Mereka tidak mampu mengungkapkan penghargaan atau pengakuan pada kelebihan orang lain.
d) Cenderung merasa tidak disenangi orang lain. Ia merasa tidak diperhatikan, dan ia bereaksi pada orang lain sebagai musuh sehingga tidak dapat melahirkan kehangatan dan keakraban persahabatan.
e) Bersikap pesimis terhadap kompetisi seperti ia enggan untuk bersaing dengan orang lain dalam membuat prestasi. Ia menganggap tidak akan berdaya melawan persaingan yang merugikan dirinya.
Ciri khas individu yang berkonsep diri negatif adalah ketidak akuratan pengetahuan tentang dirinya sendiri. Harapan-harapan yang tidak masuk akal dan harga diri yang rendah kadang-kadang menyebabkan mahasiswa Tunanetra kurang percaya diri akan kemampuannya.
Individu yang mempunyai pemahaman atau pengetahuan yang kurang atau sedikit tentang dirinya, ia tidak sungguh-sungguh mengetahui siapa dia, apa kelebihan dan kekurangannya. Bagi mahaasiswa Tunanetra yang berkonsep diri negatif, evaluasi diri yang dimilikinya juga meliputi penilaian yang negatif terhadap dirinya, merasa tidak pernah cukup, baik dengan apa yang dirasakannya dan selalu membandingkan apa yang akan dicapai dengan yang dicapai orang lain.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa konsep diri negatif akan cenderung membuat individu bersikap tidak efektif, ini akan terlihat dari kemampuan interpersonal dan penguasaan lingkungan dalam masyarakat.

0 komentar:

Poskan Komentar