Kamis, 21 Januari 2010

Pengantar Psikologi Umum

1. Judul buku: Pengantar Psikologi Umum
2. Tahun: September 2003
3. Penulis: Prof. Dr. Bimo Walgito
4. Penerbit: ANDI Yogyakarta
5. Alamat penerbit: Jl. Beo 38-40. Telp (0274) 561881 Yogyakarta
6. Jumlah halaman: 246 Halaman. 4 BAB
7. Cetakan: Edisi keEmpat 2003
8. No ISBN: 979-731-413-8
BAB 1 hal 1 - 42
PENGERTIAN, KEDUDUKAN DAN METODE-METODE DALAM PSIKOLOGI
1. PENGANTAR
Di tinjau dari segi ilmu bahasa, perkataan psikologi berasal dari perkataan psyche yang diartikan jiwa dan perkataan logos yang berati atau ilmu pengetahuan. Karena itu perkataan psikologi sering diartikan atau diterjemahkan dengan ilmu pengetahuan tentang jiwa atau disingkat dengan ilmu jiwa.
Psikologi sebagai suatu ilmu, psikologi merupakan pengetahuan yang diperoleh dengan pendekatan ilmiah, merupakan pengetahuan yang diperoleh dengan penelitian-penelitian ilmiah.penelitian ilmiah adalah penelitian yang dijalankan secara terencana, sistematis, terkontrol, dan dalam psikologi berdasarkan atas data empiris.
2. PENGERTIAN PSIKOLOGI
Perbedaan pandangan bukanlah merupakan hal yang baru dalam lapangan ilmu lebih-lebih dalam lapangan ilmu social. Masing-masing ahli mempunyai sudut pandangan sendiri-sendiri mana yang dianggap penting, sehingga akan berbeda dalam meletakkan titik beratnya, Perbedaan pandangan ini mungkin karena perbedaan bidang study ataupun metode yang digunakan dalam pendekatan masalah. Ini akan jelas apabila dilihat tentang batasan apakah yang dimaksud dengan psikologi itu.
Karena itu psikologi itu merupakan ilmu mengenai jiwa, maka persoalan yang pertama timbul ialah apakah yang dimaksud dengan jiwa itu? Menurut Ki Hadjar Dewantara sebagai berikut:
“Apa yang dimaksud dengan “jiwa” itu menurut pengajaran pengetahuan yang positif? Pertanyaan itu tidak mudah dijawab dan ini terbukti dari adanya macam-macam jawaban. Menurut riwayatnya ilmu psikologi, maka sudah mulai zaman purba orang memperbincangkan soal ini, soal yang tertua didalam peradaban manusia ……………………………………….!” Yaitu perkataan jiwa dapat diartikan sebagai:
a. Kekuatan yang menyebabkan hidupnya manusia
b. Serta menyebabkan manusia dapat berpikir, berperasaan dan berkehendak (budi).
c. Lagi pula penyebabnya orang mengerti atau insyaf akan segala gerak jiwanya.
3. PRILAKU MANUSIA
Psikologi merupakan ilmu tentang perilaku dengan pengertian bahwa perilaku atau aktivitas-aktifitas itu merupakan manifestasi kehidupan psikis. Telah dikemukakan oleh Branca (1964), Woodwort dan Marquis (1957), Sartain, (1967) dan morgan (1984) bahwa yang diteliti atau di pelajari dalam psikologi ini baik perilaku manusia maupun hewan. Namun demikian hasil dari penelitian itu dikaitkan untuk dapat mengerti tentang keadaan manusia.
a. Jenis perilaku
Perilaku pada manusia dapat dibedakan antara berilaku refleksif dan perilaku yang non-refleksif. Perilaku yang refleksif merupakan perilaku yang terjadi atas reaksi secara spontan terhadap stimulus yang mengenai organisme tersebut. Dalam prilaku yang refleksif respon langsung timbul begitu menerima stimulus. Dengan kata lain begitu stimulus diterima oleh reseptor, begitu langsung respons timbul melalui efektor, tanpa melalui pusat kesadaran atau otak
b. Pembentukan perilaku
Sperti telah dipaparkan didepan bahwa prilaku manusia sebagai terbesar ialah berupa perilaku yang di bentuk, prilaku yang dipelajari.
1. Cara pembentukan perilaku dengan kondisioning atau kebiasaan
2. Pembentukan perilaku dengan penertian (insight)
3. Pembentukan perilaku dengan mengunakan model
c. Beberapa teori perilaku
Bahwa prilaku manusia tidak dapat lepas dari keadaan individu itu sendiri dan lingkungan dimana individu itu berada.
1. Teori insting
Teori ini dikemukakan oleh McDougall sebagai pelopor dari psikologi social. Menurut McDougall perilaku itu disebabkan karena insting. Insting merupakan perilaku yang innate, perilaku yang bawaan, dan insting akan mengalami perubahan karena pengalaman.
2. Teori dorongan ( drive theory)
Teori ini menurut Hull (lih. Crider, 1983; Hergenhahn, 1976) bila organisme berprilaku dan dapat memenuhi kebutuhannya, maka akan terjadi pengurangan atau reduksi dari dorongan-dorongan perilaku tersebut.
3. Teori insentif (incentive theory)
Insentif atau juga disebut sebagai reinforcement ada yang positif dan ada juga yang negative. Reinforcement yang positif adalah yang berkaitan dengan hadiah, sedangkan yang negative berkaitan dengan hukuman.
4. Teori Antribusi
Teori ini ingin menjelaskan tentang sebab-sebab perilaku orang. Apakah perilaku itu disebabkan oleh disposisi internal misalnya motif, sikap dsb, ataukah oleh keadaan eksternal. Teori ini dikemukakan oleh Fritz Heider (lih Baron dan Byrne) dan teori ini menyangkut lapangan psikologi social.
5. Teori kognitif
Dengan kemampuan berpikir seseorang akan dapat melihat apa yang telah terjadi sebagai bahan pertimbangannya dismping melihat apa yang dihadapi pada waktu sekarang dan juga dapat melihat kedepan apa yang akan terjadi dalam seseorang bertindak.
4. LETAK PSIKOLOGI DALAM SISTEMATIKA ILMU
Ditinjau secara historis dapat dikemukakan bahwa ilmu yang tertua adalah ilmu filsafat. Ilmu-ilmu yang lain tergabung dalam filsafat, dan filsafat merupakan satu-satunya ilmu pada waktu itu. Karena itu ilmu-ilmu yang tergabung dalam filsafat. Demikian pula halnya dengan psikologi
Psikologi yang mula-mula tergabung dalam filsafat, akhirnya memisahkan diri dan berdiri sendiri sebagai ilmu yang mandiri. Hal ini adalah jasa dari Wilhelm wundt yang mendirikan laboratorium psikologi yang pertama-tama pada tahun 1879 di leipzing untuk meneliti peristiwa-peristiwa kejiwaan secara eksperimental.
5. HUBUNGAN PSIKOLOGI DENGAN ILMU-ILMU LAIN
Psikologi sebagai ilmu yang meneropong atau mempelajari keadaan manusia, sudah barang tentu psikologi mempunyai hubungan dengan ilmu-ilmu lain yang sama-sama mempelajari tentang keadaan manusia.
a. Hubungan psikologi dengan Biologi
b. Hubungan psikologi dengan Sosiologi
c. Hubungan Biologi dengan Filsafat
d. Hubungan psikolgi dengan ilmu pengetahuan alam .
6. RUANG LINGKUP PSIKOLOGI
Seperti telah dikemukakan diatas, Psikologi dilihat dari segi objeknya, psikologi dapat dibedakan dalam dua golongan yang besar, yaitu:
a. psikologi yang meneliti dan mempelajari manusia
b. psikologi yang meneliti dan mempelajari hewan, yang umumnya lebih tegas di sebut psikologi hewan.
Psikologi umum ialah, psikologi meneliti dan mempelajari kegiatan-kegiatan atau aktivitas psikis manusia yang tercermin dalam prilaku umumnya.
Psikologi khusus ialah, psikologi yang meneliti dan mempelajari segi-segi khususan dari aktivitas-aktivitas psikis manusia.
Psikologi khusus ini ada bermacam-macam, antara lain : Psikologi perkembangan, psikologi social, psikologi pendidikan, psikologi kepribadian, psikologi kriminal, Psikopatologi, psikologi perusahaan.
7. METODE-METODE PENELITIAN DALAM PSIKOLOGI
Metode tertua atau metode yang pertama-tama di gunakan dalam lapangan psikologi spekulasi. Akan tetapi akibat perkembangan ilmu pengetahuan pada umunya dan psikologi pada khususnya akhirnya metode ini di tinggalkan, dan dirintislah metode baru yang didasarkan atas pengalaman-pengalaman atau empiri.
a. Metode longitudinal
Metode ini merupakan metode penelitian yang membutuhkan waktu relative lama untuk mencapai suatu hasil penelitian. Dengan metode ini penelitian dilakukan hari demi hari, bulan demi bulan, bahkan bisa sampai tahun demi tahun.
b. Metode Cross-sectional
Metode ini merupakan suatu metode penelitian yang tidak membutuhkan waktu yang cukup lama di dalam mengadakan penelitian.
Untuk lebih terperinci dapat dikemukakan metode-metode yang digunakan dalam lapangan psikologi sebagai berikut :
a. metode intropeksi, b. metode intropeksi eksperimental, c. metode ekstropeksi, d. metode kuesioner, e. metode interviu, f. metode biografi, g. metode analisis data, h. metode klinis, i. metode testing. J. metode statistik
BAB II hal 43 - 52
MANUSIA DAN LINGKUNGANYA

1. MANUSIA DAN PERKEMBANGANNYA

Manusia itu merupakan mahkluk hidup yang lebih sempurna apabila dibandingkan dengan mahkluk yang lain. Teori-teori perkembangan tertsebut ialah
a. Teori Nativisme
Teori ini menyatakan bahwa Perkembangan manusia itu akan dintentukan oleh faktor-faktor nativus, yaitu faktor-faktor keturanan yang merupakan faktor-faktor yang dibawa oleh individu pada waktu dilahirkan. Teori ini dikemukakan oleh Schoppenhouer (Bigot, dkk, 1950).
b. Teori Empirisme
Teori ini menyatakan bahwa Perkembangan seseorang individu akan ditentukan oleh empirinya atau pengalaman-pengalamanya yang diperoleh selama perkembangan individu itu. Menurut teori ini individu yang dilahirkan itu sebagai kertas atau meja yang putih bersih yang belum ada tulisan-tulisanya.
Teori empirisme ini dikemukakan oleh John Locke.
c. Teori Konvergensi
Teori ini merupakan Teori gabungan (konvergensi) dari kedua teori tersebut di atas, yaitu suatu teori yang dikemukakan oleh Wlliam Stern baik pembawaan maupun pengalaman atau lingkungan mempunyai peranan yang penting di dalam perkembangan individu.
2. FAKTOR ENDOGEN DAN FAKTOR EKSOGEN
Faktor endogen ialah factor yang di bawa individu sejak dalam kandungan hingga lahir. Jadi factor endogen merupakan faktor keturunan atau factor pembawaan. Faktor Eksogen ialah merupakan faktor yang datang dari luar diri individu, merupakan pengalaman-pengalaman, alam sekitar, pendidikan dan sebagainya yaitu yang sering dikemukakan dengan pengertian milieu.
3. HUBUNGAN INDIVIDU DENGAN LINGKUNGANYA
Dalam teori konvergensi bahwa lingkungan mempunyai peranan yang penting dalam perkembangan individu, dan teori ini pada umunya menunjukkan kebenaranya. Lingkungan secara garis besarnya dibedakan:
a. Lingkungan Fisik, Yaitu lingkungan yang berupa alam
b. Lingkungan social, Yaitu merupakan lingkungan masyarakat
BAB III hal 53 - 83
SEKILAS PERKEMBANGAN PSIKOLOGI
1. PENGARUH FILSAFAT PADA PSIKOLOGI
Abad ke 17 merupakan abad perkembangan ilmu pengetahuan, sebelum itu orang berpenggang pada pendapat Aristoteles dan orang-orang ahli dalam bidang filsafat. Pandangan yang paling dominant adalah melalui empiris atau penglaman. Orang ahli yang berpengaruh pada psikologi modern antara lain:
 Rene Descarter (1596-1650)
 John Locke (1632-1704
2. PENGARUH FISIOLOGI DAN PENGETAHUAN ALAM PADA PSIKOLOGI
Pengaruh penetahuan alam dan fisiologi pada psikologi merupakaan permulaan dari psikologi eksperimental. Ada empat ahli yang dapat dipandang sebagai orang yang mengadakan eksperimen-eksperimen antara lain:
1. Hermann von Helmholtz
2. Ernset Weber
3. Gustav Theodore Fechner
4. Wilhelm Wundt
3. FISIKOLOGI FUNGSIONAL
Tokohya bernama William James (1842-1910), banyak hal yang merupakan paradoksal dari Jamel dalam kaitanya dengan psikologi di Amerika. Pada satu sisi ia merupakan pelopor atau pendahulu bagi psikologi fungsional di amerika, ia merupakan pionir psikologi modern di Amerika.
4 PISIKOLOGI BEHAVIORISME
Aliran Behaviorisme timbul di Rusia tetapi kemudian berkembang pula di Amerika, dan merupakan aliran yang mempunyai pengaruh cukup lama.
5. PSIKOLOGI GESTAL
Max Wertheimer (1880-1943) dapat dipandang sebagai pendiri dari psikologi Gestalt, tetapi ia bekerja sama dengan dua temanya. Menurut Gestalta baik struktualisme maupun behaviorisme kedua-keduanya melakukan kesalahan, yaitu karena mengadakan atau menggunakan reductionistic approach, keduanya mencoba membagi pokok bahasan menjadi elemen-elemen.
6. PSIKOLOGI ANALISIS
Pendiri psikoanalisis adalah Sigmund (1856-1939). Tujuan dari psikoanalisis dari frued adalah ke tingkat kesadaran mengenai ingatan atau pikiran-pikiran yang direpres atau ditekan, yang diasumsikan sebagai sumber perilaku yang tidak normal dari pasienya.
7. PSIKOLOGI HUMANISTIK
Abraham Maslow (1908-1970) dapat dipandang sebagai bapak dari psikologi humanistic. Gerakan ini merupakan gerakan psikologi yang merasa tidak puas dengan psikologi behavioristik dan psikoanalisis, dan mencari alternative psikologi yang fokusnya adalah manusia dengan cirri-ciri eksistensinya.
8. PSIKOLOGI KOGNITIF
Waston sebagai seorang behavioris menyatakan bahwa psikologi harus menyingkirkan setidak dapatgala referensi yang berkaitan kasadaran. Hal yang di pelajari adalah perilaku yang menampak, pengertian kesadaran adalah pengertian yang dubicous. Kesadaran tidak dapat diamati secara langsung
BAB IV hal 84 - 241
PERITIWA-PERISTIWA KEJIWAAN
1. PERSEPSI
Kehidupan individu, tidak daupat lepas dari lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosialnya. Sejak individu dilahirkan, sejak itu pula individu secara langsung menerima stimulus dari luar dirinya, dan ini berkaitan dengan persepsi.
a. Pengertian Persepsi
Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh proses pengindraan, yaitu merupakan proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indera atau juga di sebut proses sensoris. Namun proses ini tidak berhenti begitu saja, melaikan stimulus tersebut diteruskan dan proses selanjutnya merupakan proses persepsi.
b. Faktor-faktor yang Berperan dalam Persepsi
Persepsi individu mengorganisasikan dan menginterprestasikan stimulus yang diterimanya sehingga stimulus tersebut mempunyai arti bagi individu yang bersangkutan. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa stimulus merupakan salah satur yang berperan dalam persepsi. Berkaitan dengan factor-faktor yang berperan dalam persepsi dapat dikemukakan adanya beberapa faktor, yaitu:
1. Objek yang Persepsi
2. Alat indera, syaraf, dan pusat susunan saraf
3. Perhatian
c. Proses Terjadinya Persepsi
Tidak semua stimulus akan direspon oleh organisme atau individu. Proses terjadinya dapat dijelaskan sebagai berikut. Objek menimbulkan stimulus, dan stimulus mengenai alat indera atau reseptor. Perlu dikemukakan bahwa antara objek dan stimulus itu berbeda, tetapi ada kalanya bahwa objek dan stimulus itu menjadi satu, misalnya dalam tekanan.
d. Organisasi Persepsi
Dalam organism atau individu mengadakan persepsi timbul suatu masalah apa yang dipersepsi teu masalah apa yang dipersepsi terdahulu, apakah bagian merupakan hal yang dipersahulu, apakah bagian merupakan hal yang dipersepsipsi lebih dahulu, baru kemudian seluruhnya, ataukah keseluruh dipersepsi lebih dahulu kemudian bagian-bagianya. Hal ini berkaitan bagaimana seseorang mengorganisasikan apa yang dipersepsinya. Objek dapat diprsepsi sangat banyak, yaitu segala sesuatu yang ada di sekitar manusia. Manusia itu sendiri dapat menjadi objek persepsi.
e. Stimulus
Agar stimulus dapat disadari oleh individu, stimulus harus cukup kuatnya. Apabila stimulus tidak cukup kuat bagaimanapun besarnya perhatian dari individu, stimulus tidak akan dapat dipersepsi atau disadari oleh individu yang bersangkutan. Dengan demikian ada batas kekuatan minimal dari stimulus, agar stimulus dapat menimbulkan kesadaran pada individu.
- Ambang stimulus
Metode untuk menentukan ambang stimulus pada umumnya digunakan method of limits sebagai salah satu metode psikofisik.
- Ambang perbedaan
Yang dimaksud ambang perbedan perbedaan ialah kemampuan individu dalam membedakan stimulus yang satu dengan stimulus yang lain yang membedakan kekuatanya.
f. Faktor Individu
keadaan individu pada suatu saat ditentukan oleh:
 sifat struktural dari individu
 sifat temporer dari individu
 aktivitas yang sedang berjalan pada individu
g. Persepsi melalui Indera Penglihatan
.Secara alur dapat dikemukakan bahwa proses persepsi berlangsung sebagai berikut:
1. Stimulus mengenai alat indara, ini merupakan proses yang ber sifat kealamam (fisik)
2. Stimulus kemudian di langsungkan ke otak oleh syaraf sensoris, proses ini merupakan proses fisiologis
3. Di otak sebagai pusat susunan syaraf terjadilah proses yang akhirnya individu dapat menyadari atau mempersepsi tentang apa yang di terima melalui alat indera. Proses yang terjadi dalam otak ini merupakan proses psikologis.
a. Struktur fisiologi mata
b. Warna elementer dan warna primer
h. Persepsi melalui Indera pendengaran
Telinga dapat dibagi atas beberapa bagian yang masing-masing mempunyai fungsi atau tugas sendiri yaitu :
a. Telinga bagian luar, yaitu merupakan bagian yang menerima stimulus dari luar.
b. Telinga bagian tengah, yaitu merupakan bagian yang meneruskan stimulus yang diterima oleh telinga luar, jadi bagian ini merupakan transformer.
c. Telingga bagian dalam, yaitu merupakan reseptor yang sensitive yang merupakan saraf-saraf penerima.
i. Persepsi melalui Indera Pencium
j. Persepsi melalui Indera Pencecap
Indera pencecap terdapat di lidah. Mengenai rasa ini ada 4 macam rasa pokok yaitu rasa:
1. Pahit
2. Manis
3. Asin
4. Asam
k. Persepsi Melalui Indra Kulit
Indra ini dapat merasakan sakit, rabaan, tekanan dan temperature. Tetapi tidak semua bagian kulit dapat menerima rasa-rasa ini
l. Illusi
Biasanya halusinasi merupakan pendahuluan ketidaknormalan jiwa. Illusi merupakan kesalahan individu dalam memberikan interprestasi atau arti terhadap stimulus yang diterimanya.

4. BAYANGAN

a. Bayangan eidetik
Menurut Erich dan Walter Jacnsch bayangan eidetic ini dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
1. Tipe T (tetanoide) tipe ini lebih menyerupai bayangan pengiring
2. Tipe B (basedoide) tipe ini dapat timbul dengan sendirinya, dan dapat pula timbul dengan sengaja.
3. Halusinasi imulus tersedan bayangan eidetic
Seperti telah dikemukakan di muka, individu dapat mempersepsi sesuatu yang ada di sekitarnya, dan hasil dari persepsi tersimpan dalam jiwanya, bilamana diperlukan dapat ditimbulkan kembali dalam alam kesadaran.
5. FANTASI
Fantasi ialah kemampuan jiwa untuk membentuk tanggapan-tanggapan atau bayangan-bayangan baru.
a. Macam-macan fantasi
 Fantasi yang menciptakan
 Fantasi yang dituntut atau yang dipimpin
 Fantasi yang mengabstraksi
 Fantasi yang mendeterminasi
 Fantasi yang mengobinasi
6. INGATAN
a. Fungsi memasukan (learning)
Dalam ingatan yang disimpan adalah hal-hal yang pernah dialami oleh seseorang. (1). Dengan cara tidak sengaja dan. (2). Dengan cara sengaja.
b. Fungsi menyimpan
c. Fungsi menimbulkan kembali
d. Kelupaan
e. Beberapa esperimen mengenai ingatan
- Metode dengan melihat waktu atau usaha belajar
- Metode belajar kembali
- Metode rekonntruksi
- Metode mengenal kembali
- Metode mengingat kembali
7. BELAJAR
a) Penertian belajar
Sikiner (1958) memberikan definisi belajar itu merupakakan suatu proses adaptasi perilaku yang progresif.
b. Belajar sebagai suatu proses
c. Belajar sebagai suatu system
Banyak factor yang mempengaruhi belajar. Maskan apabila dianalisis lebih lanjut, akan didapati beberapa masukan,yaitu masukan mentah, masukan instrument, dan masukan lingkunan. Semua ini berinteraksi dalam proses belajar, yang pada akhirnya akan mempengaruhi hasil belajar.
8. BERFIKIR
a. Pengertian
Salah satu sifat berfikir adalah goal direrected yaitu berfikir tentang sesuatu, untuk memperoleh pemecahan masalah untuk mendapat sesuatu yang baru.
b. Berfikir kreatif
Dalam berfikir orang akan dapat menemukan sesuatu yang baru, yang sebelumnya mungkin belum terdapat.
c. Tingkatan-tingkatan dalam berfikir kreatif
- Persiapan
- Tingkatan inkubasi
- Tingkat pemecahan atau iluminasi
- Tingkat evaluasi
- Tingkat revisi
d. Hambatan dalam proses berfikir
Hambatan yang timbul dalam proses berfikir disebabkan data yang kurang sempurna, sehinga banyak data yang harus diperoleh. Data dalam keadaan confuse.
9. INTELIGENSI
a. Pengungkapan inteligensi
Telah dipapar di depan bahwa masing-masing individu berbeda-beda dalam segi intelegensinya.
10. PERASAAN DAN EMOSI
a. Perasaan
Apa yang dimaksud perasaan telah dikemukakan di atas. Mengenai perasaan yang berkaitan dengan waktu, yaitu perasaan yang masih telah nyata dengan perasaan yang masih dalam jangkauan waktu yang akan dating.
b. Emosi
Emosi merupakan keadaan yang ditimbulkan oleh situasi tertentu (khusus), dan emosi cenderung terjadi dalam kaitanya dengan prilaku yang mengarah (approach) atau menyingkiri (avaidence) terhadap sesuatu, dan prilaku tersebut pada umunya disertai adanya epresi kejasmanian, sehingga orang lain dapat mengetahui bahwa seseorang sedang mengalami emosi.
11. MOTIF
a. Pengantar
Motif berasal dari bahasa latin movere yang berarti dorongan untuk merangsang seseorang menjadi semangat.
b. Teori-teori motif
- Teori insting
- Teori dorongan
- Teori insentif
- Teori antribusi
- Teori kognitif
c. Jenis-jenis motif
- Motif fisiologis
- Motif sosial
- Teori kebutuhan dari murray
- Motif eksplorasi, kopetensi, dan self-aktualisasi
d. Frustasi dan konflik
Frustasi atau kendala dapat bermacam-macam: (1). Dari lingkungan. (2). Keinginan yang tidak sesuai dengan harapan. (3). Masalah-masalah pribadi misalnya, cinta segitiga, keluarga dan lain-lain.
KESIMPULAN
Penguraian yang terdapat dalam buku ini lebih banyak mengungkap teori-teori yang dikemukakan oleh para tokoh psikologi. Penjelasan yang terdapat dalam buku ini mudah-mudahan bisa membantu kita dalam memahami sesuatu hal dalam berpikir.
Pokok-pokok materi yang terdapat dalam buku ini dibagi menjadi empat bab antara lain: bab 1 menjelaskan pengertian, kedudukan dan metode-metode dalam psikologi. Bab II Menjelaskan Manusia dan Lingkungannya. Bab III Menjelaskan Sekilas tentang perkembangan psikologi. Bab IV Menjelaskan Peristiwa-peristiwa kejiwaan.
Dalam buku ini masih ada sedikit kekurangan yaitu dengan tidak adanya suatu kesimpulan dalam penulisan buku ini.


Readmore »»

Guru Profesional

Profesional merupakan sesuatu hal yang ada didalam diri di implementasikan secara totalitas, menekankan pada prinsip minat, bakat, menjiwai dan ideal. Hal ini juga harus didukung tanggung jawab dan disiplin. Segala sesuatu yang dikerjakan dilaksanakan dengan teliti, rapi, lengkap, dilandasi dengan kecerdasan,akhlak mulia dan ketaqwaan. Dan untuk mencapai itu semua harus melewati tahapan dan memupuk potensi yang ada didalam diri.
Ada beberapa kompetensi yang harus dilaksanakan untuk menjadi guru professional :
1. kompetensi pedagogis
a. memahami dan menguasai karakteristik siswa
b. menguasai teori dan prinsip pembelajaran
c. mengembangkan kurikulum yang berkaitan denagan mata pelajaran
d. menyelenggarakan pembelajaran
e. memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk proses pembelajaran
f. berkomunikasi dengan efektif, empatik dan santun
g. menyelanggarakan evaluasi dan hasil belajar siswa
h. memanfaatkan hasil evaluasi untuk kepentingan pembelajaran
i. melakukan tindakan refleksi untuk meningkatkan kualitas belajar
2. kompetensi kepribadian
a. bertidak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan budaya nasional Indonesia
b. menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia dan menjadi suru tauladan
c. menampilkan diri pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa
d. menunjukkan etos kerja, tanggung jawab, rasa bangga dan berwibawa
e. menjunjung tinggi kode etik guru
3. kompetensi sosial
a. bersikap inklusif, objektif, tidak diskriminatif karena pertimbangan perbedaan-perbedaan
b. berkomunikasi secara efektif, empatik dan santun untuk menyeluruh
c. beradaptasi ditempat bertugas diseluruh wilayah
d. berkomunikasi dengan komunitas
4. kompetensi professional
a. menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir mata pelajaran
b. menguasai standar kompotensi dan kompetensi dasar
c. mengembangkan materi secara kreatif
d. mengembangkan profesionalisme secara berkelanjutan
e. memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengembangkan diri

BAB II
Teaching Skills
1. Kurikulum yang sempurna dan ideal tanpa diimbangi kemampuan guru untuk mengimplementasikannya maka kurikulum tersebut kurang bermakna.
2. Guru yang professional mesti memiliki sejumlah ketrampilan yang hanya mungkin didapatkan dari sebuah proses latihan, bukan hanya karena pembawaan.
3. Ketrampilan dasar ialah ketrampilan standar yang harus dimiliki setiap orang yang berprofesi sebagai guru inilah yang membedakan mana guru yang professional dan yang bukan guru.
Kompetensi dasar guru
 Kompetensi Personal/pribadi
 Kompetensi professional
 Kompetensi pedagogik
 Kompetensi social

Standar Guru
 Standar mental
 Standar moral
 Standar social
 Standar spiritual
 Standar intelektual
 Standar Fisik
 Standar psikis

Ketrampilan Mengajar
A. Ketrampilan membuka pelajaran
1. Menarik perhatian siswa
a. Gaya mengajar guru.
b. Penggunaan alat Bantu.
c. Pola interaksi
1. Menumbuhkan motivasi
a. Kehangatan/kentusiasan
b. Menumbuhkan rasa ingin tau.
c. Mengemukakan ide.
d. Memperhatikan minat siswa.
2. Memberi acuan
a. Mengemukakan tujuan.
b. Menjelaskan langkah pembelajaran.
c. Mengajukan pertanyaan/pre-test.
3. Menghubungkan antar materi
a. Mengadakan appersepsi.
b. Menjelaskan konsep umum.

B. Ketrampilan Menjelaskan
1. Kejelasan
a. Menggunakan kalimat yang mudah.
b. Menghindari kata-kata yang berlebihan.
2. Penggunaan contoh/ilistrasi
a. Menggunakan contoh-contoh.
b. Contoh yang diberikan relevan dengan penjelasan.
c. Contoh yang diberikan sesuai dengan kemampuan siswa.
3. Pengorganisasian
a. Pola struktur sajian.
b. Memberikan ikhtisar butir-butir yang penting.
4. Penekanan pada hal yang penting
a. Dengan suara
b. Dengan cara mengulangi.
c. Dengan gambar, demonstrasi.
d. Dengan mimic/gerak.
5. Balikan
a. Mengajukan pertanyaan.
b. Meminta respon.
c. Meminta komentar siswa.

C. Ketrampilan Bertanya
1. Penggunaan pertanyaan secara jelas.
2. Pemberian acuan.
3. Pemindahan giliran.
4. Penyebaran.
5. Pemberian waktu berpikir.
6. Pemberian tuntunan.

D. Ketrampilan memberi penguatan
1. Penguatan Verbal
a. Dengan kata-kata.
b. Dengan kalimat.
2. Penguatan Non-verbal
a. Dengan bahasa tubuh.
b. Dengan mimic/gerak.

E. Ketrampilan pengadaan variasi
1. Variasi gaya mengajar
a. Suara
- Nada suara
- Volume suara
- Kecepatan bicara
b. Kesenyapan
- Selingan diam
- Kesibukan/kegiatan dihentikan.
- Perubahan stimulus.
c. Mimik dan gerak
- Ekspresi wajah
- Gerak badan.
- Gerak tangan.

2. Variasi media
a. Alat atau bahan yang bisa dilihat.
b. Alat atau bahan yang dapat didengar.
c. Alat atau bahan yang dapat diraba/diperagakan.
d. Audio visual AID {AVA}
4. Variasi pola Interaksi
a. Pola satu arah [guru-siswa}
b. Pola dua arah {guru-siswa-guru}
c. Pola tiga arah

F. Ketrampilan menutup pelajaran
1. Meninjau kembali inti materi
 Merangkum / meringkas
 Menyimpulkan
 Memberikan tindak lanjut.
2. Mengevaluasi
 Mengajukan pertanyaan.
 Demonstrasi
 Penugasan

BAB III
Urgensi PPL 1 [micro teaching}
Dasar Hukum
1. UU. No.20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional.
2. UU. No. 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen.
3. Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Pendidikan Nasional.
4. Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2008 tentang guru.
5. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 16 Tahun 2005 tentang standar kualifikasi dan kompetensi pendidik.

PPL 1 ialah Praktek pembelajaran secara terbatas untuk melatih berbagai ketrampilan dasar mengajar seperti membuka dan menutup pelajaran, menggunakan media, variasi strategi pembelajaran, diskusi, pemberian penguatan dan bertanya sebelum menerapkannya disekolah secara riil.

BAB IV
Landasan Pengembangan RPP

- PP. NO. 19 Thn 2005 Ttg. SNP (Psl. 20)
Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang memuat sekurang-kurangnya, tujuan pembelajaran, materi ajar, metode mengajar, sumber belajar dan penilaian hasil belajar.
Pengertian RPP
Seperangkat deskripsi program kegiatan pembelajaran yang sekurang-kurangnya memuat rumusan kompetensi dasar, indikator yang hendak dicapai, materi pokok, media dan sumber, startegi dan skenario pembelajaran serta penilaian hasil belajar.
Jangka waktunya tidak mutlak, bisa untuk satu semester, satu minggu atau bahkan untuk satu kali pertemuan atau tatap muka.
Manfaat
Sebagai arah kegiatan dalam mencapai kompetensi.
Sebagai pola dasar dalam mengatur tugas dan wewenang bagi setiap unsur yang terlibat dalam pebelajaran
Sebagai pedoman kegiatan belajar baik guru maupun peserta didik.
Sebagai alat ukur untuk mengetahui efektif tidaknya kegiatan pembelajaran.
Prinsip Pengembangan RPP
Signifikansi
Feasibilitas
Relevansi
Kepastian
Ketelitian
Adaptabilitas
Alokasi Waktu

UNSUR-UNSUR RPP
1. Identitas Matapelajaran
2. Standar Kompetensi
3. Kompetensi Dasar
4. Indikator Kompetensi
5. Materi Pokok
6. Strategi Pembelajaran
7. Media dan Sumber Belajar
8. Skenario Pembelajaran
9. Penilaian Hasil Belajar

Standar
Batas dan arah kemampuan yang harus dimiliki dan dapat dilakakukan peserta didik setelah mengikuti pemebalajaran.
Memperlakukan peserta didik sesuai dengan potensinya dan membantu mereka agar mampu melakukan sesuatu sesuai kemampuannya.
Menuntut peserta didik untuk mencapai peringkat prestasi dan performance tertentu.

Kompetensi
Seperangkat tingkatan cerdas, penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang tertentu ( SK. Mendiknas 045/U/2002 ).
Ciri-Ciri Kompetensi
• Kompetensi memiliki fokus dan konteks, yaitu kehidupan nyata dan berbagai pengalaman.
• Kompetensi dibentuk melalui integrasi dan aplikasi yang kompleks dari berbagai kemampuan.
• Integrasi dan aplikasi merefleksikan pengetahuan, pengalaman, sikap dan nilai serta keterampilan secara seimbang.
• Kompetensi ditandai dengan kinerja, bukan hanya sekedar penguasaan pengetahuan, sikap dan nilai.
Standar Kompetensi
Kebulatan pengetahuan, keterampilan, sikap dan tingkat penguasaan yang diharapkan dapat dicapai dalam mempelajari suatu matapelajaran tertentu
Cakupan Standar Kompetensi :
1. Standar Isi (Content standard)
2. Standar Penampilan (Performance
standard)

SK. Perencanaan Pendidikan
• Siswa memahami dan menguasai dua puluh kosa kata baru yang berhubungan dengan madrasah, sehingga mampu membaca, bercakap, dan menyusun kalimat sederhana. sesuai dengan topik yang diajarkan.

Kompetensi Dasar
Pengetahuan, keterampilan dan sikap minimal yang harus dikuasai dan dapat ditampilkan peserta didik.

Indikator Kompetensi
• Indikator Kompetensi merupakan penjabaran dari Kompetensi Dasar yang menunjukkan tanda-tanda perilaku / perbuatan atau respon yang dilakukan atau yang ditampilkan peserta didik setelah belajar

Materi Pembelajaran
 Garis besar bahan ajar yang dipelajari untuk mencapai kompetensi dasar.
 Penjabaran bahan ajar atau materi pokok mempertimbangkan validity, significance, utility, learnability dan interest.
 Materi dapat diklasifikasikan berupa fakta, konsep,prinsip,maupun prosedur.

Media dan Sumber
Media Pembelajaran
1. By Design :
Sengaja dirancang khusus oleh pendidik untuk pembelajaran
2. By Utilization :
Segala sesuatu yang dapat digunakan sebagai alat bantu
meskipun tidak dirancang khusus untuk pembelajaran.

Sumber Belajar
Sumber bahan bisa orang, bahan cetakan, rekaman maupun berupa tempat tertentu.

Skenario Pembelajaran
 Intro
 Kegiatan Inti
 Penutup
Intro (pendahuluan)
Langkah awal membuat suasana belajar yang kondusif. Bangun minat peserta didik, antara lain :
1. Menjelaskan kompetensi yang akan dicapai
2. Melakukan appersepsi
3. Mengadakan pre-test
4. Memberikan ilustrasi gambar atau cerita
5. Mengajukan pertanyaan, problem atau
kasus tertentu, dsb.
Kegiatan Inti
Maksimalkan pemahaman dan ingatan peserta didik dalam pembelajaran. Beri kesempatan mereka berpikir, membangun wawasan dan merekonstruksi pengalaman mereka dalam belajar.
Libatkan peserta didik mengalami proses dalam pembelajaran.
Gunakan variasi strategi pembelajaran aktif.
Terapkan prinsip-prinsip edutainment, CTL, dsb.

Penutup
• Memperkuat pembelajaran ; minta peserta didik mereview meteri pembelajaran. Jika mungkin beri kesempatan mereka mengilustrasikan materi secara kontektual.
• Mengadakan pos-test.

Penilaian Hasil Belajar
• Evaluasi dalam RPP berfungsi sebagai alat untuk mengukur tingkat ketercapaian kompetensi peserta didik. Acuannya adalah rumusan kompetensi dasar dan indikator kompetensi. Alat ukurnya bisa menggunkan tes maupun non-tes, disesuaikan dengan karakteristik dari masing-masing matapelajaran.
• Jika alat ukurnya menggunakan tes, maka perlu disertakan kunci jawabannya

Readmore »»

Pendidikan Inklusif

Pendidikan Inklusif adalah bahwa Pendidikan Inklusif didasarkan
pada hak asasi dan model sosial; sistem yang harus disesuaikan
dengan anak, bukan anak yang menyesuaikan diri dengan sistem.
Pendidikan inklusif dapat dipandang
sebagai pergerakan yang menjunjung tinggi nilai-nilai, keyakinan
dan prinsip-prinsip utama yang berkaitan dengan anak, pendidikan,
keberagaman dan diskriminasi, proses partisipasi dan sumbersumber
yang tersedia.

Sebenarnya fenomena di atas tidak perlu terjadi jika sistem pendidikan inklusi dipersiapkan dengan lebih matang. Tahapan – tahapan tersebut antara lain; sosialisasi, persiapan sumber daya (preparing resources), dan uji coba (try out) metode pembelajaran. Sosialisasi pendidikan inklusi dimaksudkan untuk memberikan gambaran secara umum tentang maksud dan tujuan pendidikan inklusi kepada tenaga pengajar, siswa, dan orang tua. Fungsi sosialisasi sangat penting untuk membangun pra kondisi lingkungan sekolah dan juga kesiapan mental baik bagi siswa maupun para guru.Tahap selanjutnya adalah mempersiapkan sumber daya yang menyangkut kesiapan peralatan peraga untuk simulasi dan kesiapan ketrampilan tenaga pelaksana pendidikan. Kelengkapan peraga untuk pendidikan inklusi memang lebih kompleks dibanding dengan alat peraga ajar yang umum digunakan. Sehingga dituntut kreatifitas dari guru untuk melakukan simulasi proses belajar mengajar. Sementara persiapan tenaga pelaksana pendidikan adalah dengan melakukan pelatihan (training) tentang beberapa metode pelaksanaan pendidikan inklusi kepada para guru.
Jika kedua langkah tersebut telah dilaksanakan maka langkah terakhir adalah melakukan uji coba metode pendidikan inklusi pada sekolah yang ditunjuk. Uji coba dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana tingkat efektifitas metode yang digunakan sekaligus untuk melakukan evaluasi sehingga dapat dicari solusi tepat untuk melakukan perbaikan jika ditemukan kekurangan. Ketika ketiga langkah tersebut sudah terlaksana dengan baik, maka pendidikan inklusi mulai dapat diaplikasikan pada sekolah yang ditunjuk sebagai pilot project.
Subtansi Pendidikan Inklusi
Pendidikan merupakan kebutuhan dasar setiap manusia untuk menjamin keberlangsungan hidupnya agar lebih bermartabat. Karena itu negara memiliki kewajiban untuk memberikan pelayanan pendidikan yang bermutu kepada setiap warganya tanpa terkecuali termasuk mereka yang memiliki perbedaan dalam kemampuan (difabel) seperti yang tertuang pada UUD 1945 pasal 31 (1). Namun sayangnya sistem pendidikan di Indonesia belum mengakomodasi keberagaman, sehingga menyebabkan munculnya segmentasi lembaga pendidikan yang berdasar pada perbedaan agama, etnis, dan bahkan perbedaan kemampuan baik fisik maupun mental yang dimiliki oleh siswa. Jelas segmentasi lembaga pendidikan ini telah menghambat para siswa untuk dapat belajar menghormati realitas keberagaman dalam masyarakat.
Selama ini anak – anak yang memiliki perbedaan kemampuan (difabel) disediakan fasilitas pendidikan khusus disesuaikan dengan derajat dan jenis difabelnya yang disebut dengan Sekolah Luar Biasa (SLB). Secara tidak disadari sistem pendidikan SLB telah membangun tembok eksklusifisme bagi anak – anak yang berkebutuhan khusus. Tembok eksklusifisme tersebut selama ini tidak disadari telah menghambat proses saling mengenal antara anak – anak difabel dengan anak – anak non-difabel. Akibatnya dalam interaksi sosial di masyarakat kelompok difabel menjadi komunitas yang teralienasi dari dinamika sosial di masyarakat. Masyarakat menjadi tidak akrab dengan kehidupan kelompok difabel. Sementara kelompok difabel sendiri merasa keberadaannya bukan menjadi bagian yang integral dari kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Seiring dengan berkembangnya tuntutan kelompok difabel dalam menyuarakan hak – haknya, maka kemudian muncul konsep pendidikan inklusi. Salah satu kesepakatan Internasional yang mendorong terwujudnya sistem pendidikan inklusi adalah Convention on the Rights of Person with Disabilities and Optional Protocol yang disahkan pada Maret 2007. Pada pasal 24 dalam Konvensi ini disebutkan bahwa setiap negara berkewajiban untuk menyelenggarakan sistem pendidikan inklusi di setiap tingkatan pendidikan. Adapun salah satu tujuannya adalah untuk mendorong terwujudnya partisipasi penuh difabel dalam kehidupan masyarakat. Namun dalam prakteknya sistem pendidikan inklusi di Indonesia masih menyisakan persoalan tarik ulur antara pihak pemerintah dan praktisi pendidikan, dalam hal ini para guru.

Readmore »»

GLOBALISASI, NEOLIBERALISME, DAN POLITIK PENDIDIKAN

Memahami Globalisasi
• Menurut Mansour Fakih (2001), globalisasi merupakan salah satu dari tiga bentuk dominasi manusia atas manusia yang lain.
Fase Pertama
• Masa kolonialisme yang ditandai dengan ekspansi secara fisik kapitalisme di Eropa.
• Fase kolonialisme merupakan proses dominasi manusia atas manusia yang lain melalui bentuk penjajahan secara langsung dan terjadi selama ratusan tahun.
Fase Kedua
• Kolonialisme/dominasi dilakukan melalui penjajahan teori dan metodologi. Meskipun negara-negara penjajah tidak lagi mencengkeram secara fisik negara-negara bekas koloninya, namun mereka secara substantif masih mengontrol negara-negara tersebut melalui teori dan proses perubahan sosial mereka.
• Fase kedua ini bisa disebut dengan fase neokolonialisme, sebab dominasi dilakukan secara terselubung yang tidak jarang membuat orang tidak sadar bahwa mereka terdominasi.
Fase Ketiga
• Dominasi pada fase ketiga ditandai dengan liberalisasi di segala bidang yang diinisiasi oleh lembaga finansial global dan disepakati oleh rezim GATT dan WTO. Ini adalah era dominasi baru dengan wajah globalisasi. Globalisasi merupakan media yang paling efektif saat ini untuk menyebarkan agenda-agenda neoliberalisme yang ingin mengintegrasikan ekonomi nasional ke dalam ekonomi global dengan basis utama pasar bebas.
Arti Globalisasi
1. Globalisasi adalah internasionalisasi, menggambarkan hubungan lintas-batas antar negara.
2. Globalisasi sebagai liberalisasi, proses integrasi ekonomi internasional.
3. Globalisasi adalah universalisasi, menyebarnya pelbagai barang dan ilmu ke seluruh penjuru dunia.
4. Globalisasi adalah westernisasi atau modernisasi atau bahkan Amerikanisasi.

Liberalisme dan Neoliberalisme
• Pertama, berbeda dengan liberalisme yang mengharuskan mekanisme pasar dipakai untuk mengatur sebuah ekonomi negara, dalam neoliberalisme mekanisme pasar juga digunakan untuk mengatur ekonomi global.
Kedua
• Berbeda dengan liberalisme klasik yang menuntut pemerintah untuk menghormati kinerja pasar sebagai salah satu cara untuk mencapai kemakmuran ekonomi nasional/bersama, neoliberalisme justeru menjadikan kinerja pasar untuk memakmurkan individu (individual wealth). Kemakmuran bersama (common wealth) dianggap hanyalah efek samping dari kemakmuran individu.
Ketiga
• Berbeda dengan paham liberalisme yang menganggap otoritas regulatif negara tetap diperlukan meskipun mekanisme pasar menjadi acuan dasar, dalam neoloberalisme justeru menekankan pelimpahan otoritas regulatif dari negara ke individu, atau dari social welfare ke selfcare.
Dampak Globalisasi &
Neoliberalisme
• Pertanyaannya adalah: Apakah sebenarnya yang dilahirkan globalisasi dan neoliberalisme? Global village (desa global) atau global pillage (penjarahan global)?
Global Pillage
• Laporan Human Develop. UNDP 2005:
1. Tahun 2015 sekitar 827 juta orang hidup dalam kondisi kemiskinan akut.
2. Akan ada sekitar 1,7 milyar orang hidup dengan pendapatan 2$US per hari.
3. 40% atau sekitar 2,5 miliar penduduk dunia hidup dengan pendapatan di bawah 2$US per hari.
4. 700 juta penduduk di Asia berpendapatan kurang dari 1$US per hari.

Resistensi Terhadap Globalisasi & Neoliberalisme
• World Social Forum (WSF) adalah salah satu bentuk resistensi terhadap agenda-agenda neoliberalisme. Setiap ada pertemuan WTO atau pertemuan negara-negara maju yang tergabung dalam G8 di mana saja selalu ada forum tandingan dari WSF. Para penolak paham neoliberalisme beranggapan bahwa sesungguhnya ideologi ini diciptakan hanya untuk kepentingan para pemenang yang memang sudah kuat secara ekonomi, politik, pendidikan dan modal.
Implikasi Dalam Dunia Pendidikan
1. Ideologi kompetisi
2. Liberalisasi pendidikan
Ideologi Kompetisi
• Salah satu implikasi neoliberalisme dalam dunia pendidikan adalah dijadikannya ideologi kompetisi sebagai basis pendidikan, sebagaimana ia dijadikan sebagai basis dalam pasar bebas.
• Kompetisi akan menghasilkan pemenang dan pecundang.
• Ideologi kompetisi tidak peduli dengan nasib orang-orang yang kalah. Akibatnya, pendidikan tidak akan peduli dengan pertanyaan: Akan dikemanakan orang-orang yang punya keterbatasan intelektual, tidak mampu, dan miskin?
• Ideologi kompetisi tidak pernah mempertanyakan secara kritis:
1. Mengapa mereka kalah?
2. Apakah memang karena mereka tidak mampu ataukah karena ada faktor lain yang membuat mereka tidak bisa bersaing?
Dampak Ideologi Kompetisi
1. Pendidikan hanya didisain untuk kepentingan para pemenang, yaitu mereka yang cerdas, pandai, dan kuat modal ekonomi dan modal sosial. Pendidikan tidak didisain untuk kepentingan orang-orang miskin, tidak mampu, kurang pintar, dan memiliki keterbatasan modal ekonomi dan sosial. Ideologi kompetisi hanya menjustifikasi privilidge orang-orang yang sudah kuat secara intelektual, ekonomi, dan sosial.
Pendidikan hanya berfungsi sebagai media reproduksi sistem sosial, sebagaimana yang disinyalir oleh Samuel Bowles dan Herbert Gintis (1976) dan Pierre Bourdieu (1990). Pendidikan tidak dijadikan sebagai media bagi orang-orang yang miskin dan tidak pandai untuk bisa mentransendensi posisi kelas sosial mereka ketika dewasa.
2. Liberalisasi Pendidikan
• Liberalisasi yang menjadi prinsip dasar neoliberalisme tidak hanya berlaku dalam domain ekonomi, tapi juga merambah ke bidang pendidikan.

• Keputusan Presiden Nomor 111 Tahun 2008 (Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 77 Tahun 2007) tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal. Dalam peraturan tersebut disebutkan bahwa pendidikan dasar dan menengah, pendidikan tinggi, dan pendidikan nonformal dapat dimasuki oleh modal asing dengan batasan kepemilikan modal asing maksimal 49 persen.

• Liberalisasi pendidikan juga terlihat dari RUU (Rancangan Undang-Undang) BHP (Badan Hukum Pendidikan) yang targetnya akan disahkan tahun 2008 ini. Pertimbangan BHP:
• Pertama, BHP akan mendorong pendidikan nasional, utamanya PT, menuju world class university dengan memberi otonomi kampus seluas-luasnya dalam hal akademik, keuangan, administrasi, personalia, dan yang lainnya.
• Kedua, negara kesulitan dalam memenuhi anggaran belanja negara di bidang pendidikan.
• Dari argumen yang dibangun pemerintah soal BHP ada beberapa hal yang harus dikritisi:
Pertama, tampak pemerintah akan mengurangi tanggung jawabnya dalam bidang pendidikan dengan alasan tidak bisa memenuhi anggaran belanja negara di bidang pendidikan. Subsidi pemerintah di bidang pendidikan tentu tidak sesuai dengan semangat prinsip liberalisasi dan pasar bebas.

Kedua, pemberian otonomi pendidikan dalam bentuk BHP sebetulnya tidak semata-mata didasarkan pada niat mulia untuk menciptakan otonomi kampus seluas-luasnya, tapi di dalamnya sesungguhnya terdapat misi untuk memuluskan agenda liberalisasi dan pasar bebas. Otonomi bisa jadi merupakan kedok untuk mengurangi tanggung jawab pemerintah di bidang pendidikan sesuai semangat pasar bebas. Agenda terselubung lain dari BHP adalah persaingan yang diserahkan kepada mekanisme pasar.

GURU SEBAGAI PENDIDIK PROFESIONAL DAN TRANSFORMATIF
 Apa yang anda bayangkan tentang sosok guru/pendidik yang ideal?
KOMPETENSI UNTUK MENJADI GURU PROFESIONAL
 Mengenal peserta didik secara mendalam
 Menguasai bidang studi
 Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik
 Meningkatkan profesionalitas secara berkelanjutan
 Meningkatkan profesionalitas pelaksanaan tugas sebagai pendidik (kepribadian, pembelajaran, dan komunikasi).
GURU SEBAGAI AGEN PEMBELAJARAN YG EDUKATIF
 Fasilitator pembelajaran
 Motivator pembelajaran
 Pemacu pembelajaran
 Perekayasa pembelajaran
 Inspirator pembelajaran
EMPAT KOMPETENSI GURU
 Kompetensi profesional
 Kompetensi pedagogis
 Kompetensi kepribadian
 Kompetensi sosial
GURU SEBAGAI PENDIDIK TRANSFORMATIF
 Pendidik transformatif menyadari adanya muatan, konsekuensi, dan kualitas politis dalam semua aktifitas pendidikan dan pengajaran.

 Pendidik transformatif memandang proses pedagogis tidak sekedar diarahkan untuk menguasai keterampilan-keterampilan teknis yang diperlukan dalam dunia kerja, tapi juga diarahkan bagaimana peserta didik mampu menjadi warga negara yang kritis, aktif, dan bertanggung-jawab (critical citizenship).
 Pendidik transformatif menempatkan pendidikan bukan sebagai reproductive force, tapi sebagai productive force, yaitu sebagai media mobilitas sosial.
 Proses pedagogis adalah upaya untuk membantu peserta didik mampu mengatasi situasi-batas (limit-situation) dan aksi-batas (limit action) mereka.
 Pendidik transformatif memandang peserta didik sebagai historical beings, yaitu makhluk praksis yang hidup secara otentik hanya ketika terlibat dalam transformasi dunia.
 Pendidik transformatif selalu mengajarkan bahwa dunia bukan sebagai sesuatu yang “given”, tapi sebagai dunia yang secara dinamis berada dalam proses ‘menjadi’.
 Pendidik transformatif berupaya agar proses pedagogis mengakomodasi diversitas/keragaman peserta didik.

UU BHP (BADAN HUKUM PENDIDIKAN)
Pengertian istilah
 BHP: Badan Hukum Pendidikan
 BHPM: Badan Hukum Pendidikan Masyarakat
 BHPP: Badan Hukum Pendidikan Pemerintah
 BHPPD: Badan Hukum Pendidikan Pemerintah Daerah

Sejarah lahirnya UU BHP
 Upaya menginisiasi RUU BHP sejak akhir 2003 setelah lahirnya UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU SPN).
 Terdapat pasang surut diskusi tentang RUU BHP di publik.
 Uji publik naskah RUU BHP dilakukan pada tahun 2007 berdasarkan naskah 5 Desember 2007.
 Diskusi terus berjalan hingga RUU BHP disahkan oleh DPR pada tanggal 17 Desember 2008.
Pengertian UU BHP
 Pasal 1 ayat 1 “Badan hukum pendidikan adalah badan hukum yang menyelenggarakan pendidikan formal”.
 Pasal 2 “BHP berfungsi memberikan pelayanan pendidikan formal kepada peserta didik”.
 Pasal 3 “Tujuan BHP adalah memajukan satuan pendidikan dengan menerapkan manajemen berbasis sekolah dan otonomi perguruan tinggi”
 Pasal 4 “Pengelolaan dana secara mandiri oleh badan hukum pendidikan didasarkan pada prinsip nirlaba, …..”

 Pasal 42 “Badan hukum pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi dapat melakukan investasi dalam bentuk portofolio”.
 Pasal 43 “Badan hukum pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi dapat melakukan investasi dengan mendirikan badan usaha berbadan hukum…”

Latar belakang eksternal lahirnya UU BHP
1. Munculnya Peraturan Presiden (Perpres) No. 77 tahun 2007 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan Penanaman Modal. Pendidikan termasuk sektor yang terbuka untuk penanaman modal asing dengan komposisi kepemilikan saham asing maksimal 49%.
2. Amanat Bank Dunia yang meminta RUU BHP sudah disahkan paling lambat tahun 2010.

Subtansi BHP: Tata Kelola Badan Hukum Pendidikan
 Penekanan pada tata kelola yang lebih menitikberatkan pada efisiensi dan produktifitas menunjukkan kemiripan dengan korporasi, yang misi utamanya adalah mencari untung.
 UU BHP secara sistematis membentuk lembaga-lembaga pendidikan formal sebagai sebuah korporasi, yang dibolehkan untuk melakukan investasi dalam bentuk portofolio (pasal 42) maupun membuka badan usaha (pasal 43).

 Titik berat pada tata kelola dan dibolehkannya membuka usaha komersil adalah langkah menuju privatisasi dan liberalisasi sektor pendidikan.
 Privatisasi: menyerahkan pelayanan publik ke swasta.
 Liberalisasi: menawarkan jasa pelayanan publik ke pasar bebas.
 Pendidikan menjadi barang komoditas dan tidak lagi menjadi hak yang melekat pada setiap warga negara.

DAMPAK POSITIF UU BHP
1. Pengelolaan pendidikan semakin profesional.
2. Peningkatan kualitas pendidikan bisa lebih diukur.
3. Pada level perguruan tinggi, keinginan untuk menjadi world class university semakin terbuka karena semakin kompetitif.
DAMPAK NEGATIF UU BHP
1. Pendidikan sebagai barang komoditas.
2. Pendidikan semakin mahal.
3. Anak-anak yang miskin dan bodoh semakin tersingkir dari pendidikan.
4. Menghapus keberagaman penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan dalam bentuk tunggal yang bernama BHP.

Studi kasus: Fakultas Kedokteran
 Berbiaya mahal.
 Dampaknya: (a) dokter tidak memiliki jiwa kerelawanan yang tinggi untuk melayani sesama, seperti Albert Schweitzer menjadi dokter bukan untuk kaya tapi untuk menolong orang Afrika; (b) para dokter akan menjadikan orang sakit sebagai komoditas untuk mengembalikan modal kuliah mereka; (c) banyak terjadi malpraktek kedokteran, karena yang diterima bukan karena pintar tapi karena sanggup membayar.

Pendidikan Inklusi
Apa pandangan anda
tentang difabel?
 Tiga pandangan difabel: model tradisional, model kedokteran, dan model sosial.
1. Model Tradisional
Model yang dikonstruk oleh agama dan budaya. Ada sebagian agama dan budaya yang menganggap bahwa kecacatan sebagai bentuk hukuman. Mereka yang cacat dianggap memiliki dosa besar, dan oleh karena itu, kotor dan tercela. Pandangan seperti ini sudah tidak dominan lagi.
2. Model Kedokteran
 Model kedokteran memandang kecacatan sebagai sebuah isu medis, dan oleh karena itu, pendekatannya pun juga bersifat medis. Masalah kecacatan dikaitkan dengan persoalan abnormalitas. Mereka yang cacat dianggap sebagai abnormal dan oleh karena itu perlu dikoreksi, diluruskan, dan disembuhkan.
Kesamaan Pandangan
 Menganggap masalah kecacatan sebagai masalah pribadi masing-masing penyandang cacat, tanpa dikaitkan dengan keseluruhan bangunan sosial kemasyarakatan. Pandangan ini menggiring kepada individualisasi masalah kecacatan.
3. Model Sosial
 Menurut model ini, penyatuan kelompok difabel dengan masyarakat berarti proses memberdayakan mereka dalam rangka menundukkan rintangan-rintangan sosial, bukan dalam rangka “normalisasi,” perawatan, atau pengobatan.
 Pemberdayaan dalam model sosial juga dipahami dalam konteks sosial yang lebih luas. Tidak hanya kelompok difabel yang secara individu diberdayakan agar dapat mentransendensi situasi-batas (baca: rintangan sosial), tapi ruang publik pun juga harus didesain sedemikian rupa sehingga memungkinkan bagi kelompok difabel untuk mengaksesnya. Persepsi-persepsi negatif masyarakat tentang difabel pun harus dirubah.


Tiga Model Pendidikan
 Pendidikan segregasi
 Pendidikan integrasi
 Pendidikan inklusi
Pendidikan Segregasi
 Sekolah segregasi adalah sekolah yang memisahkan anak berkebutuhan khusus dari sistem persekolahan reguler. Misalnya, Sekolah Luar Biasa sesuai dengan jenis kelainan peserta didik. Seperti SLB/A (untuk anak tunanetra), SLB/B (untuk anak tunarungu), SLB/C (untuk anak tunagrahita), SLB/D (untuk anak tunadaksa), SLB/E (untuk anak tunalaras), dan lain-lain.
Kekuatan dan Kelemahan
 Kekuatan: anak-anak berkebutuhan khusus dapat dilayani secara maksimal.
 Kelemahan: (a) perkembangan emosi dan sosial anak kurang luas karena lingkungan pergaulan yang terbatas dan kurang wajar; (b) memberikan kontribusi dalam membentuk habitus sosial yang segregatif.

Pendidikan Integrasi
 Sekolah terpadu adalah sekolah yang memberikan kesempatan kepada peserta didik berkebutuhan khusus untuk mengikuti pendidikan di sekolah reguler tanpa adanya perlakuan khusus yang disesuaikan dengan kebutuhan individual anak. Dengan kata lain pendidikan terpadu menuntut anak yang harus menyesuaikan dengan sistem yang dipersyaratkan sekolah reguler.
Kekuatan dan Kelemahan
 Kekuatan: anak berkebutuhan khusus dapat bergaul di lingkungan sosial yang luas dan wajar.
 Kelemahan: anak berkebutuhan khusus tidak mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan individual anak.
Pendidikan Inklusi
 Setiap anak, sesuai dengan kebutuhan khususnya, diusahakan dapat dilayani secara optimal dengan melakukan berbagai modifikasi dan/atau penyesuaian, mulai dari kurikulum, sarana prasarana, tenaga pendidik dan kependidikan, sistem pembelajaran sampai pada sistem penilaiannya. Dengan kata lain pendidikan inklusif mensyaratkan pihak sekolah yang harus menyesuaikan dengan tuntutan kebutuhan individu peserta didik, bukan peserta didik yang menyesuaikan dengan sistem persekolahan.
Kekuatan
 Anak mendapat pelayanan sesuai dengan kebutuhan anak.
 Anak dapat bergaul di lingkungan sosial yang luas dan wajar.
 Membangun sikap simpatik, empatik, dan solidaritas terhadap mereka yang selama ini tereksklusi dari pendidikan mainstream.
 Menghilangkan sikap dan nilai yang diskriminatif.
 Meminimalisir hambatan berkaitan dengan kelainan fisik, sosial dan masalah lainnya terhadap akses dan pembelajaran.

Kelemahan
 Implementasi di lapangan yang cukup sulit dan menantang.
Jenis Layanan Pendidikan
1. PENDIDIKAN KHUSUS
Sekolah untuk anak-anak :
 Penyandang Cacat : (d/h TKLB, SDLB, SMPLB, SMLB)
 Berkecerdasan Istimewa (d/h Program Akselerasi)
 Berbakat Istimewa

2. PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS
Sekolah untuk anak-anak :
 pada daerah terbelakang/terpencil/pulau-pulau kecil/perbatasan
 masyarakat etnis minoritas
 pekerja anak, pelacur anak/trafficking, lapas anak, anak jalanan
 Pengungsi (gempa, bencana, konflik)
 anak TKI, Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN)

3. PENDIDIKAN INKLUSIF
 Sekolah Biasa, yang mengakomodasi semua Anak Berkebutuhan Khusus
 SLB yang mengakomodasi anak normal

 (Sekolah Inklusif adalah Sekolah yang terpilih melalui seleksi dan memiliki kesiapan baik Kepala Sekolah, Guru, Orang Tua, Peserta Didik, Tenaga Administrasi dan Lingkungan Sekolah/Masyarakat).

Sejarah Pendidikan Inklusi
 Diprakarsai dan diawali dari negara-negara Scandinavia (Denmark, Norwegia, Swedia).
 Di Amerika Serikat pada tahun1960-an oleh Presiden Kennedy mengirimkan pakar-pakar Pendidikan Luar Biasa ke Scandinavia untuk mempelajari mainstreaming dan Least restrictive environment, yang ternyata cocok untuk diterapkan di Amerika Serikat.
 Selanjutnya di Inggris dalam Ed.Act. 1991 mulai memperkenalkan adanya konsep pendidikan inklusif dengan ditandai adanya pergeseran model pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus dari segregatif ke integratif.
 Konferensi dunia tentang pendidikan tahun 1991 di Bangkok yang menghasilkan deklarasi ’education for all’. Implikasi dari statemen ini mengikat bagi semua anggota konferensi agar semua anak tanpa kecuali (termasuk anak berkebutuhan khusus) mendapatkan layanan pendidikan secara memadai.
 Sebagai tindak lanjut deklarasi Bangkok, pada tahun 1994 diselenggarakan konvensi pendidikan di Salamanca Spanyol yang mencetuskan perlunya pendidikan inklusif yang selanjutnya dikenal dengan ’the Salamanca statement on inclusive education”.
Mengapa Pendidikan Inklusi?
 Banyak anak-anak yang tereksklusi dari pendidikan mainstream, terutama kelompok difabel.
 Pendidikan inklusi: proses untuk membuat semua anak dapat belajar dan berpartisipasi secara efektif dalam sekolah mainstream tanpa ada diskriminasi.
Pertanyaan Pokok
1. Who is in?
2. Who is out?
3. How come?
4. What are we going do to about it?
Prinsip-Prinsip Dasar
1. Setiap orang secara inheren punya hak terhadap pendidikan atas dasar kesamaan kesempatan.
2. Tidak boleh ada peserta didik yang tereksklusi dan terdiskriminasi dalam pendidikan dengan alasan apapun, apakah ras, warna kulit, gender, bahasa, agama, politik, difabilitas, ataupun lainnya.
Semua anak pada dasarnya dapat belajar dan mendapat manfaat dari pendidikan. Prinsip ini didasari oleh keyakinan bahwa betapapun naif dan bodohnya anak, dia dapat berkembang dan berubah.
4.Sekolah merupakan pihak yang bertanggung jawab untuk menyediakan kebutuhan bagi peserta didiknya, bukannya peserta didik yang harus mengadaptasi kepada kebutuhan sekolah
5, Perbedaan-perbedaan individual di antara peserta didik adalah sumber kekayaan dan keragaman, bukannya sebuah masalah. Diversitas memperkaya, bukannya menghambat atau memperlambat, proses pembelajaran.
6. Dasar pendidikan inklusi bukanlah asimilasi, tapi apresiasi atas perbedaan. Prinsip apresiasi menjadi penting di sini, yaitu how to accept, respect, and value differences.

Kelompok Difabel
 Sebagai sebuah isu hak asasi manusia, difabilitas bukanlah persoalan kondisi medis orang, tapi lebih pada persoalan keadilan sosial dan kesempatan untuk berpartisipasi dalam kehidupan sehari-hari.
 “It is [about] to be a part of society, not to be apart from society” .

Readmore »»

evaluasi

Pengertian evaluasi {suharsimi arikunto) adalah kegiatan menilai yang terjadi dalam kegiatan pendidikan ------- penilaian di sekolah.
Evaluasi (anas sudijono) adalah kegiatan untuk menentukan kemajuan pendidikan di bandingkan dengan tujuan yang sdh ditetapkan.
Evaluasi {hamalik} adl: keseluruhan kegiatan pengukuran, pengolahan, penafsiran dan pertimbangan untuk membuat keputusan tentang tingkat hasil belajar yg dicapai peserta didik setelah melakukan kegiatan belajar dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Tujuan Evaluasi
1. bagaimana keberhasilan belajar siswa. 2. bagaimana proses efektifitas KBM. 3. memberi motivasi siswa dan guru. 4. mencari factor pendukung dan penghambat belajar siswa.----------- untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Fungsi evaluasi
a. selektif ------ memilih lulus/tdk lulus, masuk UIN, menentukan juara kelas
b. diagnostic----- mendeteksi kemampuan, kelebihan, kekurangannya dll.
c. Penempatan----- sesuai dengan minatnya/bakatnya, serta kemampuannya.
Kemampuan hasil belajar
Perolehan pengetahuan, peningkatan ketrampilan berpikir, pengembangan ketrampilan psikomotornya, perubahan sikap/nilai atau perasaan.
Ruang lingkup Evaluasi pendidikan
1. evaluasi program--------- menetapkan tujuan, isi, materi, strategi, evaluasi
2. evaluasi proses pembelajaran -------KBM, guru, siswa, administrasi, supervise
3. evaluasi hasil belajar----evaluasi proses (feed back), evaluasi hasil (keputusan), system (tes dan non tes)
Obyek Evaluasi {sasaran/pengamatan secara khusus}
a. Input --------- dari siswa, dari kemampuannya, bakat minat, kepribadiannya.
b. Transformasi -------- guru, sarana prasarana, media, metode, siswa dll
c. Output----------- lulusannya, setelah lulus mau kemana, sdh pada kerja apa msh ‘anggur.
Subjek evaluasi
a. guru ------ pencapaian yang di peroleh siswa
b. psikolog --- tes kepribadian, IQ, minat, kemampuan, bakatnya di bidang apa.
c. Pemerintah ----- standar pendidikan Nasional
d. Supervisor/ pengawas ------ kinerja anak buahnya.
e. Sekolah ----- naik/tdk naik kelas, lulus/tdk lulus.
Dasar-dasar evaluasi
Filsafat, psikologi, komunikasi, kurikulum, manajemen, sosiologi, pengukuran dan penilaian.
Prinsip-prinsip evaluasi
Keterpaduan, CBSA, kontinuitas, koherensi, diskriminalitas, keseluruhan, pedagogis, akuntabilitas.
Cirri-ciri Evaluasi
a. Secara tdk langsung misalnya: apakah bias dikatakan langsung kepandaian seseorang. b. Ukuran kuantitatif {symbol angka} c. menggunakan satuan ukuran tetap d. bersifat relatif. e. sering terjadi kesalahan misalnya: alat ukurnya, orangnya/evaluatornya, anak yang dinilai.
Level Ranah Kognitif
Knowledge {ingatan,hafalan}, comprehension {paham, mengerti}, Aplication {penerapan pemahaman}, Analysis {menguraikan}, Syntesis {memadukan bagian2}, Pertanyaan Evaluasi {membuat Pertimbangan/penilaian}.
Catatan : semakin kebawah semakin sulit.
Tujuan penilaian afektif
• Untuk mengetahui tingkat perubahan tingkah laku siswa
• Untuk penempatan anak sesuai dengan tingkat pencapaian dan karakteristiknya.
• Untuk mengenal kelainan tingkah laku anak.
Sasaran ranah afektif
1. minat -------- kecenderungan terhadap sesuatu dan tahan lama.
2. motivasi------dorongan untuk berbuat {tinggi-rendah}
3. sikap --------- menentukan wujud tindakan seseorang.
4. nilai --------- sesuai nilai2 Normatif {mendekat-menjauh}
pengukuran Ranah psikomotor
hasil psikomotor ialah hasil belajar yg berkaitan dengan ketrampilan motorik dan kemampuan bertindak individu/penampilan.
Tetapi biasanya pengukuran ranah ini disatukan dngn ranah kognitif.
Alat/instrument evaluasi Tes dan Non Tes.
Evaluasi Non tes
Skala bertingkat, kuesioner, wawancara, pengamatan, riwayat hidup, porto folio, presensi, praktek, partisipasi, publikasi.



II
Prinsip-prinsip membuat Tes
1. Valid, 2. Representatif 3. Jenis Pertanyaan sesuai dengan hasil belajar yang diharapkan 4. sesuai dengan tujuan 5 Reliabilitas
Tujuan tes Prestasi
a. mengetahui keberhasilan siswa dalam pembelajaran. b. mengetahui keberhasilan guru dalam pembelajaran. c. memberikan remidi atau pengayaan.
• Valid, sahih, tepat, benar.
Tes dikatakan valid jika tes tersebut dapat mengukur apa yang seharusnya di ukur misalnya: thermometer untuk mengukur suhu udara, skala bertingkat untuk mengukur minat.
• Representative, cocok, sesuai keadaan
Segi materi2 tes diambil dari bahan yang sudah diajarkan/sejalan dengan tujuan
Segi penentuan nilai terhindar dari unsur subyektif.
• Reliable, ajeg, mantap.
Ujian dikatakan memiliki reabilitas apabila hasil2 pengukuran yang dilakukan dengan menggunakan tes tsbsecara berulang kali terhadap subjek yang sama, menunjukkan hasl yang tetap sama atau ajeg.
Jujur
1. materi yang diujikan, yang sudah diajarkan 2. tingkat kesulutan sesuai dengan kemampuan peserta didik 3. ditentukan bobot nilai tiap soal.
# organisasi#
a. jelas petunjuk dan perintahnya b. urutan soal tes sesuai dengan materi yang diajarkan c. layout harus jelas, spasi, bagus, margin kanan, kiri, atas, bawah. d. pokoknya tampilan oke.
# seimbang #
1. bahan/materi ajar dengan sample tes 2. jumlah soal dengan waktu yang tersedia 3. tingkat kesulitan/level kognitif dari yang rendah ke yang tinggi 4. variasi tipe tes, esai, B-S, MC, Matching, jawaban singkat.
Ciri-ciri tes Objektif
1. tes telah terstruktur, tidak mengorganisasikan sendiri. 2. jawaban telah disediakan 3. materi/bahan cukup luas 4. ada kunci jawaban.
# Menyusun tes B-S #
 Mebuat pernyataan/pertanyaan harus jelas.
 Menghindari kata2: selalu, kadang2, biasanya, sering.
 Menghindari pernyataan negative ganda
 Menghindari petunjuk yang mengarah ke jawaban.
 Menggunakan proposisi yang benar jika bentuknya sebab akibat.
 Hal teknis lain: jumlah soal tidak banyak(10-15), jumlah jawaban B-S seimbang, jawaban tidak merupakan pola yang tetap.
# Jenis Tes #
1. Objektif
a. B-S, b. menjodohkan c. Pilihan ganda: biasa, kompleks, sebab akibat, diagram, kasus. d. isian singkat/jawaban pendek.
2. Uraian/subjektif : babas dan bebas terbatas.
# membuat soal pilihan ganda #
 Menghindari pengulangan kata-kata kunci
 Kalimat soal diusahakan dengan kalimat positif
 Jika menggunakan kalimat negative, supaya ditebalkan, digaris bawahi.
 Kalimat tiap butir soal harus jelas.
 Mengacak jawaban
 Satu soal bebas dari pengaruh soal yang lain.
 Jumlah pilihan tidak terlalu banyak (4/5)
 Jawaban/respon dibuat homogin/serumpun
 Jawaban berupa angka di buat urutan, kecil ke besar atau besar ke kecil.
 Perintah atau petunjuk mengerjakan soal harus jelas
# Membuat soal menjodohkan #
 Materi serangkaian soal dibuat homogin/serumpun
 Premis dan respon dibuat dalam satu halaman yang sama(kanan, kiri, atas, bawah)
 Jumlah respon lebih banyak dari premis (+4)
 Petunjuk harus jelas, apakah satu respon hanya dapat dipakai satu kali atau lebih dari satu. Dan jumlah serangkaian soal tidak boleh banyak (12)
# Ciri-ciri te uraian/Esai #
1. siswa mengorganisasikan jawaban sendiri 2. jawaban berdasarkan kata2/kalimat sendiri. 3. terbatas pada sejumlah kecil pertanyaan. 4. penyekoran subjektif.
# butir soal isian singkat #
a. jawaban dibatasi, bukan isian yang terbuka. b. titik2 diletakkan pada ujung pertanyaan. c. 1 pertanyaan, memuat satu jawaban. d. jika jawaban yang berupa bilangan, nyatakanlah satuan perhitungan tersebut.
# tes esai/subjektif/uraian #
Tes subjektif macam2nya : uraian terbatas, uraian tak terbatas, proyek, tugas, studi kasus.
Esai terbatas ; sifatnya ----terikat rambu soal : format, isi dan aspek jawaban.
Esai tak terbatas : sifatnya----terbuka, fleksibel, tidak terstruktur,
# menulis soal tes Esai #
 Pertanyaan untuk mengukur hasil belajar yang kompleks.
 Pertanyaan yang langsung dapat mengukur hasil belajar (kompetensi dasar dan indicator), pertanyaan ditulis secara jelas, memberikan batas waktu dan bobot tiap butir soal.
* kebaikan dan kekurangan tes objektif *
Kebaikannya antara lain representative/ mewakili 1 materi, lebih objektif dalam penilaian, lebih mudah dan cepat memeriksanya, pemeriksaan hasil tes bisa dibantu orang lain.
Adapun kekurangannya antara lain: persiapan lebih sulit, cenderung ingatan, banyak kesempatan untuk berspekulasi, kerja sama antar siswa lebih terbuka.
* kekuatan dan kelemahan tes model open book *
Kekuatannya antara lain: Mhs tidak terlalu tegang pikirannya, mhs akan bertanya pada buku, mhs terbiasa membuat catatan yang baik dan memiliki buku-buku, mhs terbiasa atau dipaksa membaca buku.
Kelemahannya antara lain : mhs malas membaca buku, habis waktunya untuk membolak-balik buku, ada kecenderungan mhs malas berpikir, mhs yang alat belajarnya tdk lengkap akan di rugikan.
# kekuatan dan kelemahan tes uraian/Esai #
Kekuatanya antara lain : relative mudah disusun, sulit berspekulasi, memotivasi siswa mengemukakan pendapat, mengetahui pengetahuan siswa thd suatu matei.
Kelemahannya antara lain: kurang mewakili seluruh materi, validitas dan reabilitas rendah, pengaruh subjektivitas cukup tinggi, memeriksa hasilnya sulit dan waktunya lama

Porto Folio adalah kumpulan karya siswa yang disusun secara sistematis dan terorganisir sebagai hasil dari usaha pembelajaran yang telah dilakukannya dalam kurun waktu tertentu.
Prinsip-prinsip Penilaian porto folio antara lain:
Saling percaya, keterbukaan, kerahasiaan, milik bersama, kepuasan dan kesesuaian, budaya pembelajaran, refleksi, berorientasi pada proses dan hasil.
Manfaat penilaian portofolio
 Memberikan gambaran yang utuh tentang perkembangan siswa(kognisi,afks, psk
 Merupakan penilaian yang autentik
 Menumbuhkan motivasi belajar siswa.
 Mendorong orang tua untuk terlibat dalam proses pembelajaran siswa, karena orang tua dimintai komentarnya terhadap hasil kerja siswa.
* hal-hal yang harus di perhatikan dalam Perencanaan Tes *
o Pengambilan sampel bahan pelajaran, tipe tes yang akan digunakan (objektif/esai), aspek kemampuan yang di uji (kognisi), format butir soal (esai, mc, B-S ), jumlah butir soal, distribusi tingkat kesulitan.
Macam-macam skala penilaian
1. Skala bebas yaitu skala yang tidak tetap. Adakalanya skor tertinggi 30 dll
2. skala 1-10, skala ini biasa digunakan untuk laporan prestasi belajar siswa dlm rapot.
3. skala 1-100, memang sebaiknya bahwa angka itu bilangan bulat nilai 5,5 dan 6,4 dalam skala 1-10 biasanya di bulatkan menjadi 6. sedangkan dalam skala 1-100 ini boleh di tuliskan dengan 55 dan 64.
4. Skala huruf, pemberian nilai dapat dilakukan dengan huruf A,B,C,D,E.
Huruf dapat digunakan sebagai symbol untuk menggambarkan kualitas.
# fungsi nilai akhir #
a. Fungsi instruksional : memberi umpan balik yang mencerminkan kompetensi yang sudah dicapai siswa.
b. Fungsi informative : untuk orang tua dan stakeholders.
c. Fungsi bimbingan: untuk membantu memberikan bimbingan dan pengarahan untuk kemajuan selanjutnya.
d. Fungsi administratif : menentukan kenaikan dan kelulusan, memindahkan dan menempatkan, memberikan beasiswa, memberikan rekomendasi untuk melanjutkan belajar, memberikan gambaran prestasi siswa/lulusan kepada stakeholders

Readmore »»

Pendidikan : MASA PENJAJAHAN BELANDA

Bangsa belanda datang ke Indonesia dengan jalan perdagangan, kemudian dengan kekuatan Militer. Selama zaman penjajahan terjadilah westernisasi di Indonesia. Pembaharuan pendidikan yang terjadi pada saat bangsa Indonesia masih dijajah oleh belanda ialah westernisasi dan kristenisasi. Dua motif inilah yang mewarnai kebijaksanaan penjajah barat di Indonesia selama -+ 3,5 abad.
Pemerintah belanda mulai menjajah Indonesia pada tahun 1619 M. setelah belanda dapat mengatasi pemberontak-pemberontakan dari tokoh-tokoh politik dan agama yaitu pangeran diponogoro, imam bonjol, Tengku Cik Di Tiro, pangeran antasari, sultan Hasanuddin dan lain-lain, maka sejarah kolonialisme di Indonesia mengalami fase yang baru, yaitu belanda secara poltik sudah dapat menguasai Indonesia. Raja-raja didaerah masih ada, tetapi tidak dapat berkuasa penuh, baik dari segi kewilayahannya maupun di bidang ketatanegaraannya. Dengan demikian maka semua kekuasaan baik politik maupun ekonomi dan social budaya sudah berada di tangan penjajah. Belanda berkuasa mengatur pendidikan dan kehidupan beragama, sesuai dengan prinsip-prinsip kolonialisme, westernisasi dan kristenisasi.
Ketika Van den Boss menjadi gubernur jenderal di Jakarta pada tahun 1831, keluarlah kebijaksanaan bahwa sekolah-sekolah gereja dianggap dan diperlukan sebagai sekolah pemerintah. Departemen yang mengurus pendidikan dan keagamaan dijadikan satu. Dan di tiap-tiap daerah keresidenan didirikan satu sekolah agama Kristen.
Gubernur jendral Van den Capellen pada tahun 1819 M, mengambil inisiatif merencanakan berdirinya sekolah dasar bagi penduduk pribumi agar dapat membantu pemerintah belanda. Dan tujuan daripada didirikannya sekolah dasar pada zaman itu. Pendidikan agama Islam yang ada di pondok pesantren, masjid, musholla dan lain sebagainya dianggap tidak membantu pemerintah belanda. Para sanri pondok masih di anggap buta huruf latin.
Mengapa pemerintah belanda menganggap bahwa madrasah pesantren dianggap tidak berguna? Karena Pendidikan agama Islam yang ada di pondok pesantren, Masjid, Musholla dianggap tidak membantu pemerintah Belanda.
Politik pemerintah belanda terhadap rakyat Indonesia yang mayoritas Islam didasari oleh rasa ketakutan, rasa panggilan agamanya, dan rasa kolonialismenya.
Pada tahun 1882 M pemerintah belanda membentuk suatu badan khusus yang bertugas mengawasi kehidupan beragama dan pendidikan Islam yang di sebut Priesterraden. Dimana orang yang memberikan pengajaran {pengajian}harus minta izin terlebih dahulu. Dikarenakan pemerintah belanda merasa ketakutan terhadap kemungkinan kebangkitan penduduk pribumi, karena terjadi peperangan antara jepang melawan rusia yang dimenangkan oleh jepang.
Pada tahun 1932 M keluar peraturan yang dapat memberantas dan menutup madrasah dan sekolah yang tidak ada izinnya atau memberikan pelajaran yang tidak disukai oleh pemerintah belanda yang di sebut dengan Ordonansi Sekolah Liar {Wilde School Ordonantie}.
Jika kita melihat peraturan-peraturan pemerintah belanda yang demikian ketat dank eras mengenai pengawasan, tekanan, dan pembarantasan aktivitas madrasah dan Pondok Pesantren di Indonesia, maka seolah-olah dalam tempo yang tidak lama, pendidikan Islam akan menjadi lumpuh atau porak-poranda bahkan bisa hilang sama sekali.akan tetapi masyarakat Islam di Indonesia pada zaman itu laksana air hujan atau air yang sulit di bendung. Para ulama pada waktu itu menyingkir dari tempat yang dekat dengan belanda. Mereka mengharamkan kebudayaan yang dibawa oleh belanda dengan berpegang kepada hadist Nabi Muhammas SAW yang artinya: Barang siapa yang menyerupai suatu golongan Maka ia termasuk golongan tersebut Riwayat Abu Dawud dan Imam Hibban}.

Readmore »»

Selasa, 19 Januari 2010

http://www.mybloglog.com/buzz/members/mybloglogd995fad1c19d87723b7d/


Readmore »»